Saturday, May 3, 2014

WithLocals Versi Myanmar

Berbuat Salah untuk berani mencoba lebih baik daripada Berbuat salah dengan berdiam diri !
-Quotes Sendiri  

Ini adalah cerita pertama gue yang tidak menceritakan mengenai travel report gue day by day, cerita kali ini mungkin sedikit bertema advetorial, tapi ga masalah toh pengikut setia gue baru beberapa, selebihnya hanya pembaca yang datang dan pergi begitu saja, persis kaya mantan-mantan gue..


HAHAHANYING !!!

Jadi tidak mungkin terlalu berdampak significant terhadap apa yang gue bahas kali ini...

WITHLOCALS

Apa itu ?
pertama gue ngebaca judulnya dari blognya Adis terlintas gue berpikir ini bahwa ini adalah semacam jejaring sosial khusus pecinta sesama jenis..

Tapi ternyata semuanya salah, kali ini adis positif, disini dia menginformasikan bahwa ada loh komunitas baru yang mengkonsepkan untuk mempertemukan -mempertemukan [membawa (menjadikan dsb) supaya bertemu] bukan -menemukan, karena kalau menemukan itu identik untuk  jodoh / belahan hati / half-better , sebagai contoh

Contoh 1 :
Eki belum juga menemukan belahan jiwanya !
#Menyedihkan

Contoh 2 :
Kapan Eki dapat menemukan Jodoh ?
#HanyaBiskuTongYangBisaMenjawab

Contoh 3 :
Apakah Sophia Latjuba berjodoh dengan ariel,atau lebih cocok dengan Eki ?
#TergantungViewerVideo3Gp

#GaPenting #TapiDibahas #Bodoamat #HalSensitif

itu berarti pendatang / turis / flashpacker / backpacker akan dipertemukan dengan Penduduk Lokal, bukan dengan Tante Sissy ataupun Tante Yuli, sekali lagi, ini bukan Komunitas Prostitusi

yups konsep ini sendiri di buat oleh Mas Wilem, Mas Marijn, dan Mas Mark, mereka ini berasal dari Belanda, kenapa gue panggil mas ? karena walau bagaimanapun juga gue uda ngerasa comfort banget sama mereka, uda gue anggap kaya Mas sendiri


#KemudianDiToyor

Setelah gue baca, gue amati, dan gue pahami walau akhirnya gue ga ngerti

Tapi...

Gue mau coba beberapa hal absurd sesuai dengan konsep WithLocals pada saat perjalanan gue ke myanmar

Hal yang pertama gue lakukan untuk ikut Euforia WithLocals yang lagi mainstream adalah, mencoba menggunakan Longyi yaitu a sheet of cloth widely worn in Burma. It is approximately 2 m (6½ ft.) long and 80 cm (2½ ft.) wide. The cloth is often sewn into a cylindrical shape. It is worn around the waist, running to the feet. It is held in place by folding fabric over, without a knot atau yang di definisikan ini adalah...

Dalemannya Banci !! 

Salah deng..


Longyi adalah salah satu pakaian khas di Burma yang umum digunakan oleh kaum adam dan Hawa, jadi tanpa pikir panjang gue keluarin deh sarung cap Gajah Duduk yang uda gue siapin langsung dari Ibukota Jakarta, hal yang pertama adalah gue belagak bego langsung make Sarung ala Indonesia, Pancingan gue berhasil, merasa agak bingung, datang tuh penjaga Hostel yang kebetulan ngeliat gue kebingungan ngeliat ke arah daleman selangkangan gue seolah mengagumi 'milik sendiri'

si penjaga hostel datang dan bantu gue untuk make-in tuh longyi, yang cara penggunaannya sangat beda, karena kedua belah sisi kanan dan kiri disilang dan di ikat lalu di buatkan lingkaran keluar sehingga nampak menonjol keluar

seperti ini
1 Menit berlalu maka jadi lah seperti ini

TARAAAA.....!!!!!

Maka saya dan Tour Guide Lokal [-Red : Baca Ariev] sudah nampak bahagia dengan tonjolan kami masing-masing dan siap untuk menunjukkannya ke orang lain
Malam hari pun tiba, badan dan otak gue uda ga singkron, dan gue ga perduli lagi dengan tonjolan gue, sehingga pemakaian yang gue lakukan cukup absurd sehingga menjadi pusat perhatian orang sekitar dan tentunya senyuman yang hampir menunjukkan tertawa
Pemakaian Longyi anti mainstream


WithLocals kedua yang kami lakukan berikutnya terjadi pada saat hari kedua kami di Myanmar di saat kami Makan Siang di sebuah restaurant di dataran rendah Mandalay Hill, gue penasaran dengan Bedak Coklat yang digunakan oleh mbak-mbak pelayan disana, yang nampak seperti figur Boneka Jigsaw di film Saw, dan dengan ramah gue menanyakan apakah gue bisa menggunakan hal yang sama dengan dia sambil menunjuk pipi, bukan payudara
Sambil tersenyum dia melengos begitu saja, dan pergi meninggalkan saya, mungkin dia terkesima dengan paras gue, atau bisa jadi dia juga bepikir bahwa gue adalah Pervert seperti turis kebanyakan

Maka gue pun menanyakan hal yang sama dengan anak-anak yang menjadi pelayan disana, dan mungkin mereka terkesan dengan kegigihan saya sehingga mereka pun mengajak saya, Ariev, dan Hardi ke belakang, saya mulai cemas mengingat berita Sodomi terhadap anak - anak lucu dan menggemaskan seperti kami mulai marak di Ibukota, lalu ketika saya melihat KTP saya pun tersadar bahwa saya bukan lagi anak-anak

Tak lama berselang gue dikejutkan dengan percakapan mereka yang menggunakan bahasa Burmese yang sama sekali gue ga mengerti, dan akhirnya gue di minta duduk, dan tanpa pikir panjang mbak yang tadi tersenyum sama gue [-Red : sebut saja Mawar] mulai mengambil sebatang kayu, dan menggosoknya ke sebuah nampan yang juga terbuat dari kayu sambil mencampurnya dengan air, yang kemudian mengoleskannya ke pipi gue dengan lembut dan kasih sayang sama seperti perilaku mantan gue terdahulu Mami gue



Perilaku kami ini tak terelakkan dengan senyuman dan tertawaan para bocah yang nampak senang sekali melihat kami di bully dengan lembut oleh Mawar, dan seluruh pipi kami habis di rajam tanpa ampun oleh mawar sehingga tampak seperti Jigsaw Crew

Nama Thanakha Sendiri berasal dari nama kayu Thanakha, yang berkhasiat untuk memberikan rasa dingin bagi penggunanya dan juga mampu untuk menghilangkan jerawat

Usai dengan Thanakha, kami pun melenggang dengan bangga ke beberapa destinasi wisata lainnya di Mandalay, dan keajaiban terjadi pada saat gue di perhatikan orang kebanyakan pada saat di Mandalay Tower, dan nampak beberapa pemuda menanyakan mengenai tinggi badan gue yang nampak sangat menarik, sambil tertawa mereka pun meminta untuk foto bareng, dengan bangga gue meng-iyakan

sehari berselang, pada saat gue di Bagan.
Ariev bertanya kepada supir taksi kami, Kenapa si supir tidak menggunakan Thanakha ?

Dan dengan sedikit tersipu malu dia mengatakan bahwa Lelaki di Bagan tidak menggunakan Thanakha,
"lalu di Mandalay ?"
"Si supir pun menjawab sepertinya tidak juga"

dan gue mengkonfirmasi,

"kalau di Yangon ?"
"Yangon adalah kota besar tentu saja pria disana juga tidak menggunakan Thanakha"

Dengan sedikit sabar dan hampir saja Mangarahkan stuntgun ke lehernya si supir gue berkata dalam hati

"Kalau Begitu semua cowok di Myanmar ga pake Thanakha dong.."



#PantasSaja

2 comments:

arievrahman said...

Ada kemajuan lah, seujung kuku. HAHAHAHA.

Hanggono Okamura Silitonga said...

kampret *selepet pake kancut