Friday, August 1, 2014

Persiapan Menuju Tibet - Everest

Udin Petot : "Cuy, sebulan lg kita ada trip"
Gue: "Haseeeeekkkk !"

#Hening #KemudianTerlupakan


Udin Petot : "cuy, tinggal 2 minggu lagi,browsing gih supaya bisa bikin itinerary"
Gue: "ok sip, 86 !! "

#Hening #Kemudianterlupakan


Udin Petot : "tinggal sepuluh hari lagi neh, jd kmana kita hari pertama"
Gue: "hmmm, bentar gue cari  tau"

*browsing sbtr kemudian facebook-an, camfrog, foxtube 
#Lemas
#KemudianTerlupakan

Udin Petot : "Heh, gue uda bikin gimana menurut lo ?"
Gue: "AJIB ! bro, gue ikut dagh"
#KemudianTerlupakan

Udin Petot : "Bro, lo uda print itinnya belum ? abis dari bandara kita naik apa neh ? "
Gue: "Wah, gue lupa dagh,sorry.."
Darto: "Terus gimana dong ? "
Gue: "Ya uda gampang, ikutin arah mata angin aja"
#Hening #KemudianJalanKakiJauh


Ini adalah situasi yang sering gue lakukan di trip-trip ASEAN

Tapi tidak untuk persiapan gue menuju Tibet - Everest, dan ini bukanlah persiapan pertama gue menuju Tibet - Everest, pada awal tahun 2012 gue pernah membeli tiket PP dari Jakarta - Chengdu dengan harga 2,2 Juta untuk menuju Tibet - Everest, Tetapi Manusia hanya bisa berencana dan TUHAN lah yang menentukan

Perjalanan gue yang seharusnya dilaksanakan desember 2012 terpaksa di cancel, karena bertepatan dengan wisuda S-2 gue sebagai M.M dan bokap minta gue untuk tetap hadir, sempat terpikir untuk tetap travelling berdasarkan mandat dari Om Tedy yang cukup sepuh (karena pengalamannya, bukan usia - red) di dunia Travelling, dia pernah bilang 
"Ki, Pengalaman lebih penting daripada cuma foto-foto di acara wisudaan, gue aja wisuda S-2 dari UI dan gue ga hadir karena gue ada trip"

Sempat terpikir untuk bersikeras pergi dan menentukan pilihan gue sendiri

Keringat gue mulai bercucuran
Tangan mulai basah
Gue bimbang, dan kehilangan arah,
Gue mulai kehilangan akal sehat
Gue putus asa ...!

Gue hampir minum air seni gue sendiri

Sampai akhirnya, gue lemas, kepala gue terasa pusing, mungkin karena gue ga biasa mikir berat, gue pasrah, dan mengikuti apa yang diminta sama bokap-nyokap gue.

Dalam hal ini bukanlah tentang menentukan pilihan sendiri, melainkan ini adalah pilihan gue untuk mengikuti apa yang diminta oleh orang tua gue sehingga mereka bisa bahagia, karena surga itu ada di telapak kaki ibu, bukan di kaki gunung everest #Catet
Di Hari - H gue wisuda

Gue Datang - Pakai Toga - Naik Stage - Stand up Comedy - Diketawain - Malu - Turun Lagi - Foto Keluarga - Pulang - Main Ps - Mandi - Nyapu Rumah - Cuci Piring - Ngaspal jalanan - Tidur - Mimpi Basah - Kebangun
#KepanjanganKi 
#OhIya
Apa Yang kau tabur maka itu yang kau Tuai, GOD Speak !

April 2014, gue ngeliat tiket promo one way Jakarta - Chengdu seharga 700ribu, gue senang, dan gue hampir khilaf minum air seni gue lagi, 
#SusahSenangMinumAirSeni, 
tiba-tiba gue teringat sama Jepri temen gue yang cukup random, saking randomnya dia kadang suka ngomong sama tangan sendiri sampai bercinta sama botol kecap
Gue ajakin dia ke tibet, dan dia mau #Murahan

Akhirnya dengan sigap gue liat - click - Bayar - dan kita jadian #Ga Deng

Bisa dibilang ini adalah persiapan perjalanan terbaik gue, karena begitu gue print semua persiapannya bisa setebal buku Stensil Kompilasi th 2012 !

Edun

Hampir ratusan artikel yang gue baca tentang tibet dan everest, mulai dari ketinggiannya, Tingkatan Penyakit AMS, kultur agama, sejarah budaya, sky burial



Penyelamatan Dalai Lama dengan codenamed Saint Circus, Pegiat Tibet Bakar Diri, sampai Pembunuhan Panchen Lama oleh Pemerintahan Cina, habis gue lalap, campur nasi sama orek telor.
Gue juga ga lupa untuk beli dvd tentang Tibet dan Everest yaitu '7 years in tibet' dan 'Vertical Limit'

Bercerita tentang 7 Years in Tibet, Film yang dibintangi Brad Pitt berperan sebagai Heinrich Harrer, seorang pendaki gunung asal Austria yang menjadi guru sekaligus teman bagi Dalai Lama 14, sebelum penjejahan Cina, Film ini mengisahkan tentang tergerusnya budaya tibet dan kejamnya penjajahan Cina pada saat itu,
Based on True Story

Dan konon setelah film ini di release Brad Pitt dinyatakan tidak boleh memasuki cina, bersamaan dengan artis-artis yang melantunkan kemerdekaan tibet, seperti Rage Against The Machine, dan Madonna.
Selain Pengetahuan gue, juga memulai persiapan dengan membandingkan beberapa tour Agent untuk masuk kedalam Tibet, karena Memasuki Tibet memiliki beberapa persyatan adminstrasi seperti : 
  • Visa Cina
  • Tibet Travel Permit
  • Alien Bureau Permit
  • Buku Nikah
Dan Tour Agent yang dipilih oleh pemerintah Cina adalah satu-satunya cara untuk memasuki kota Tibet, cukup sulit untuk menggunakan metode low cost dalam trip ini, itu karena varian harga Tour Agent, bisa setara dengan biaya backpacking ke Eropa, mulai dari :
  1. Tibet Highland Tours 1300 USD
  2. Potala Travel : 1350 USD
  3. Tibetan Connections : 945 USD
  4. Wind Horse Tours : 902 USD
  5. Budget Tibet Tours : 897 USD
  6. Access Tibet Tour : 876 USD
  7. Tibet Travel.com  : 864 USD
  8. Tibet Tour.org : 860 USD
Setelah puluhan testimonial dan membaca rincian perjalanan yang beragam, gue memilih untuk menggunakan tour yang fast response, mempunyai rincian perjalanan yang hampir 90% tempat wisatanya di kunjungi, testimonial yang positif, menggunakan orang tibetan asli sebagai tour leader, berkantor di Chengdu dan Lhasa, sehingga memudahkan gue untuk bertransaksi, berpengalaman lebih dari 8 tahun, dan juga tentunya mempunyai harga yang sangat murah dibandingkan yang lainnya, tanpa mengurangi fasilitas dan kualitas.

Gue Memilih Tibet Travel.org sebagai kandidat juara untuk mengakomodasi perjalanan gue selama di tibet, karena menurut gue hampir semua kriteria dimiliki oleh Tibet Travel . org, selain itu mereka juga memberikan potongan dari 790 usd / orang menjadi 750 usd / orang, setelah melakukan negosiasi ala blogger.


Tidak sampai disitu, gue juga mengharuskan memesan tiket perjalanan gue dari Chengdu - Tibet begitu juga sebaliknya, sehingga dengan bantuan abang ipar gue, gue memilih untuk pergi menggunakan kereta dengan alasan proses aklimitasi bagi seorang yang biasa tinggal di dataran rendah seperti gue, dan pulang menggunakan pesawat dengan alasan menghemat waktu.

Fisik adalah hal utama yang perlu di utamakan dalam trip kali ini, terkecuali lo mau pingsan seperti aviss di ketinggian 5200 mdpl atau terkena pernapasan periodik seperti Penulis Perjalanan Atap Dunia Daniel Mahendra di ketinggian 5000 mdpl

Gue memilih untuk mengikuti saran teman gue yaitu berlari setidaknya 20km/minggu, akan tetapi usia ga pernah bohong, gue hanya bisa maksimal 15km/minggu sebanyak 3 x dalam 2 bulan terakhir sebelum kepergian

Di tambah dengan pola makan sehat dan Juice Mix-Fruit yang di buatkan oleh Nyokap gue setiap malam + Perlakuan nyokap gue yang semakin posessif setiap gue belum pulang di atas jam 21.00, dia pasti mulai sms seperti "Amang, uda dimana, sudah jam berapa ini, jaga kesehatan jangan pulang malam-malam, kan sudah mau berangkat " 
Tidak sampai disitu, ibarat pepatah sedia payung sebelum hujan, gue juga menyediakan obat-obatan seperti
Obat AMS ini hanya ada di china


Tahap akhir gue mulai drafting perincian biaya yang akan gue keluarkan untuk visa, transportasi dan akomodasi saja, maka keluarlah angka seperti ini ..Tada...


2 Minggu sebelum keberangkatan, Travel Agent yang paling Hits versi gue, ngebantu gue untuk mempersiapkan diri dan memberikan gue Tibet Travel guide Book sebanyak 54 Halaman yang bisa langsung lo download di dropbox gue 

Oh iya satu hal lagi total perjalanan gue sebesar 21,5 Juta untuk trip ini, dan Jepri bilang dia merasa ketipu, karena draft rincian awal gue sebesar 15 juta saja.
Teaser untuk Tibet 



No comments: