Showing posts with label Cina. Show all posts
Showing posts with label Cina. Show all posts

Tuesday, July 21, 2015

Everest #Day9

Terhitung sudah hampir 1 tahun gue menceritakan tibet trip gue, Agustus 2014 - Juli 2015, 10 thread dan 2 orang sudah menjalani trip ini dengan tour agent yang sama, sebagai Fans Berat Inul gue merasa bahagia.

Hari ini gue masih menceritakan masa kelam gue di tanggal 19 Juni 2014, di saat gue harus bermalam di Chomolangma Sunshine Hotel di Everest Basecamp di ketinggian 5200 mdpl

 
 
 
 

Setelah gue disuguhkan dengan nasi goreng ala everest basecamp yang hambar dengan sayuran, Jepri juga memesan kopi hangat yang dihidangkan dengan air panas dan Kopi sachet tanpa diseduh !

EMEJING !

Gue berasa kaya imigran gelap Srilanka !

Membuat Tsampa
 

Dengan di iringi doa dan nyanyian lagu "jangan Menyerah" karya the nasib gue tetap berusaha menikmati makanan tersebut sambil menonton pemilik hotel menyuapi anaknya dengan tsampa yang nampak sudah tumpah bersamaan dengan liur kemudian dimasukkan kembali ke mulut anak tersebut.
Disini gue merasa sedih, walau gue ga dikhianatin pacar pada saat itu.

Penderitaan masih belum berhenti disitu, gue masih harus mendengar tangisan bayi sepanjang malam, ditambah lagi dengan kambuhnya AMS gue, badan balik kanan langsung mikirin mantan  dada gue jadi sesak, balik kiri keinget gebetan yang uda 3 hari ga balas bbm gue, dada gue makin sesak, gue coba tengkurap, entah kenapa gue jadi keinget dosa, dada gue makin sesak

Gue duduk dan  Puji Tuhan, gue bisa bernapas dengan lega, persis kaya dapat ucapan good morning dari pacar teman !

Gue langsung minum obat AMS + Tolak Angin berharap gue bisa mengatasi AMS ini dengan baik, tapi ibarat putus karena seligkuh ga bakal ada yang namanya bisa berakhir dengan baik - baik.

Dada gue masih Sesak, gue berkali - kali mengeluh - mengaduh - mengucap mantra sambil berharap ada yang terbangun dan memeluk gue dari belakang sambil berkata "semua akan baik-baik saja"

Tak seorangpun terbangun, gue kehabisan ide, gue mulai kehilangan akal sehat, maka terjadilah hal yang tidak di inginkan oleh pria kebanyakan, SELFIE !

 
 

Selfie saja tidak bisa menghabiskan waktu sampai matahari terbit, gue test nyali keluar dari tenda untuk mengetahui dinginnya gunung tertinggi di dunia ini, dan sensasi dinginnya luar biasa, sarung tangan di jemari nampak tidak berguna sama sekali, Jemari ini sulit sekali untuk di gerakkan, baru ini gue merasakan hal yang lebih dingin dari tatapan mantan yang melihat gue jalan dengan pacar baru
gue melihat ke atas dan melihat bintang yang bertaburan membantu bulan menyinari malam kelabu gue.
Pukul 06.00 am gue memberanikan diri untuk keluar dan melihat matahari mulai menyinari puncak everest.


Gue tertegun, sambil berkata "Akh Sudahlah, Gue sudah dapatkan apa yang gue Inginkan" Sambil tersenyum kepada Everest !

Sambil di temani Double Rainbow kami pun kembali pulang menuju Shigatse dengan jalur yang sama.

 
 
 


Adios Everest !
qui audet adipiscitur !

 

Notes :
Buat kalian yang ingin mengirim surat bisa melalui POS TERTINGGI DI DUNIA DI EVEREST BASECAMP 



Wednesday, February 18, 2015

Tibet - Everest #Day 7

Hi Selamat Malam semuanya, uda lama banget yah gue ga ngelanjutin ceritanya, kalian pasti uda lama juga nunggu tulisan gue yah ? Iya-in aja yah please !



Anyway, masih suka pergi nonton bioskop sendiri ga ? atau jangan-jangan uda ada yang nemenin neh ?

cieeee...yang uda mulai terbiasa ditemenin nonton sama papa mamanya

Oh iya ini gue mau ngelanjutin hari ke - 7 gue menuju Everest, kalau sebelumnya gue bercerita mengenai kemegahan Potala Palace, Hidung gue yang mimisan karena ketinggian extreme, sampai kesabaran gue menunggu si gebetan membalas bbm gue di hari ketiga.

Kali ini gue akan menceritakan lo sebuah keindahan dunia yang Tuhan ciptakan bernama Yamdrok Lake, supaya kamu juga tahu bahwa keindahan ciptaan Tuhan itu bukan cuma kamu aja

#EAAKKKK !!!!


Hari ini gue cek out dari hostel untuk menuju Shigatse, kota perhentian terakhir sebelum Everest Basecamp, pkl 7.30 gue sudah harus bersiap di meeting point, Saran gue adalah pastikan kalian duduk di bangku terdepan di samping pak supir, karena kalian akan di anugerahi dengan pemandangan gunung diselimuti awan putih yang semakin membuat hari kalian berwarna sama seperti pada saat kalian menerima balasan sms dari dia.

Jam 10.00 gue sudah sampai di lereng pegunungan, dan sejauh mata memandang, gue melihat seorang kakek tua yang nampak sedang mengelus binatang dengan bulu yang sangat tebal, sebesar domba tapi bentuknya seperti anjing, setelah gue berusaha mendekat, dan gue pun berbahagia karena akhirnya gue berhasil menemukan Tibetan Mastiff, Ras anjing Tibetan yang diplot sebagai Anjing TERMAHAL DI DUNIA, dengan harga mencapai Rp.20.000.000.000,- Anjing yang dujuluki Door Guard karena perannya sebagai penjaga kuil pada zaman terdahulu di yakini sudah termasuk spesies langka, karena jumlahnya terus berkurang, sama kaya Cewe Cantik, yang baik dan masih Single, Semakin sulit di temukan semenjak eranya Panji Manusia Millenium..Ngehe memang

Kalau kencing aja bayar, apalagi foto sama spesies langka ini, lo diminta untuk merogoh kocek sebesar 20 Yuan,
Disini gue juga menyempatkan berfoto dengan kambing yang juga memiliki bulu yang lebat, dan gue beranalogi bahwasanya hewan disini secara natural mempunyai bulu yang lebat untuk melindungi diri mereka dari dinginnya tatapan mantan kamu saat ngeliat kamu jalan dengan pacar yang baru, eh ga deng, dinginnya pegunungan Himalaya maksudnya.


Waktu yang singkat membuat gue ga punya waktu untuk mengenal lebih dalam si mastiff, karena setelah ini gue akan di hadirkan sebuah Danau yang suci bagi bangsa Tibetan, yang dikenal dengan nama Yamdrok Lake, dari puncak Kamba-la Pass di ketinggian 4700 mdpl


gue pun terdiam sejenak, sama seperti ketika gue ditanya sudah punya apa oleh orangtua si pacar, gue terperangah melihat perpaduan warna torquise di danau itu, mata gue perih campur sedih, persis kaya waktu gue liat foto cewe narsis di medsos yang coba ngasih tunjuk badan tambunnya dengan bikini two pieces..PERIH pake BANGET


30 menit dari Kamba-la Pass gue sudah sampai di tepi danau, dan mencoba merasakan dinginnya air tersebut, sambil berpikir untuk mencicipnya, tapi benak gue seolah menolak untuk mencobanya, dengan pendekatan yang persuasif gue meminta Jepri untuk mencoba rasa airnya, dan dia bilang bahwa rasanya Hambar !
Kaya ngeliat Mantan yang uda bawa dua anak..Hambar plus mati Rasa

Saran gue, lebih baik kalian menahan iman untuk tidak berfoto dengan Tibetan Mastiff di spot-spot gue sebelumnya, karena lebih baik untuk berfoto dengan Mastiff ketika kita sudah sampai di tepi danau, oleh karena beragamnya Tibetan Mastiff untuk berfoto bersama di spot ini, begitu juga dengan Yak, juga ada di tepi danau ini, dan juga bisa di naiki, seperti biasa harga bisa di tawar, sama seperti masa tahanan koruptor di negara ini. BISA DITAWAR


Tidak lupa gue juga meminum obat AMS di titik ini, untuk menghindari penyakit AMS, dikarenakan singkatnya masa aklimitasi gue dari 3600 mdpl langsung menuju 4700 mdpl kurang dari sehari

Dalam perjalanan gue melewati Nyang River, nampak tidak ada yang spesial dalam sungai ini, tapi ternyata sungai ini dipercayakan sebagai tempat Water Burial oleh bangsa Tibet, tempat ini adalah pemakaman bagi jenazah golongan rendah seperti pengemis dll, hal yang sama juga diberlakukan seperti Sky Burial, yaitu mayat dipotong dan di iris kecil-kecil, kemudian di buang ke sungai tanpa di taburi bawang goreng atau di oles mentega terlebih dahulu, memang terlihat sangat sadis, tetapi selain agama, budaya juga merupakan hal yang harus kita hormati,

Nampak ada beberapa gambar anak tangga di tebing-tebing pinggir sungai, hal ini dipercaya sebagai simbol bahwasanya itu adalah tangga bagi para arwah untuk menaiki anak tangga menuju Surga.
MENARIK !





Di saat siang hari kami pun berhenti di sebuah restaurant di kota Nanggatsyi, yang nampak sudah di plot oleh tour agent untuk makan di restaurant tersebut, sekedar Saran, lebih baik jujur terhadap diri sendiri, apabila restaurant itu dirasa cukup mahal, kalian bisa langsung keluar untuk mencari restaurant lain yang harganya cocok dengan dompet kalian yang sudah setipis stocking Beyonce.
Perjalanan di lanjutkan menuju kota Shigatse, tapi sebelumnya kami diberhentikan di Glacier abadi yang terkenal di pegunungan Himalaya


Sesampainya di Shigatse, kamipun langsung menuju Tashilunpo Monastery yang ditemukan oleh dalai lama I pada tahun 1447


Tempat ini juga merupakan tempat Panchem Lama Berada, siapa itu Panchen lama ?

Beliau adalah petinggi agama di Tibet setelah Dalai Lama, Konon kabar burung, bahwa Panchen Lama yang Asli telah DIBUNUH oleh pemerintahan Cina, yang kemudian di gantikan oleh Panchen Lama pilihan Pemerintah Cina, beruntunglah Dalai Lama bisa kabur ke India, sehingga beliau masih di anggap sebagai petinggi asli Bangsa Tibet

Usai dari sini pada pukul Tepat pukul 19.00 kami tiba di hotel dan langsung Cek In, sedangkan gue dan si polska di suruh menunggu, Tak berselang beberapa menit kemudian kamipun di minta masuk lewat pintu samping hotel, dan TARA!


Hotel yang disediakan bagi kami kaum setengah mampu adalah hotel dengan bangunan lama, dan menggunakan kamar mandi umum, ditemani dengan para supir ataupun para cendekiawan yang ingin menghabiskan waktu dengan para wanita penghibur, Yak ! Hotel lama ini nampaknya digunakan untuk Hotel Esek-Esek, tapi apa daya, hal ini juga merupakan pengalaman tersendiri untuk Backpacker Manis Berduit Minimalis seperti gue


Anyway,

Besok Gue sudah sampai di Everest Loh !
tunggu kelanjutan ceritanya yah, semoga kalian bersabar yah, se-sabar ngelap ingus pacar kalian yang meler setiap nonton Drama Korea

Chiaoo Bellaaaaaaa




Tuesday, October 21, 2014

Tibet - Everest #Day 5

Hi... kamu semua yang ditolak cewe karena kurang tinggi, atau lo yang Ganteng tapi pura-pura mati waktu mau dikenalin sama keluarga besar pacar, Hi juga buat lo yang tiap hari ngucapin selamat pagi tapi cuma di read doang

Gimana weekendnya minggu ini ? Ngebosenin ? gitu2 aja ? atau Menyenangkan karena bisa seharian stalkerin Medsos Gebetan..


Cieee...Cie....


Gue uda cukup ngeselin belum pembukaannya ?
Karena kalau uda cukup ngeselin kan biasanya dia ngambek tuh, kalau uda ngambek kan pasti kepikiran terus, terus di diemin 3 jam juga uda minta baikan lagi #eeeaaakkk

Kalau uda gue mau lanjut cerita hari ke 5 gue menuju Everest neh

Negara yang menghabiskan uang cukup banyak sepanjang hidup gue, Negara yang sudah mengajarkan gue arti pentingnya sebuah anugerah yang diberikan oleh TUHAN setiap hari melalui oksigen, Negara yang sudah cukup memberikan makna hidup tentang arti pentingnya Ucapan Syukur setiap hari untuk kehidupan itu sendiri.

Setelah sebelumnya gue terjaga lebih dari 24 jam tidak tertidur, maka hari kedua gue di Tibet dimulai dengan mengunjungi beberapa destinasi seperti Kuil Dreppung, areal Barkor Street dan Biara Sera.

Tibet, really had me at hello..
Itulah awal kalimat gue untuk menjalani hari ini, Tepat pkl 9.00 pagi kami (gue, Jepri dan ke dua polska) dijemput oleh bus yang nampak sudah penuh dengan 8 tourist lainnya.

Yups tourist ! karena mereka menginap di hotel berbintang dan kami ditempatkan di Guest House

Destinasi pertama kami adalah Dreppung Monastery, satu dari 3 Universitas Buddha terbesar di Tibet, Dalai Lama juga belajar di tempat ini dari masa kecilnya sampai tumbuhnya bulu ketiak pertamanya, atau sampai dia siap memimpin agama Buddha di Tibet

Sekitar tahun 1936-1937, tempat ini bisa di huni sekitar 7.700 - 10.000 Biksu pelajar, dan saat ini hanya bisa mencapai 300 Pelajar saja, hal ini disebabkan pembatasan Populasi bangsa Tibet oleh Bangsa Cina, dari persitiwa ini kita bisa melihat bagaimana kejamnya negara Cina ini dalam menjajah Negara Tibet

Letaknya yang berada di gunung Gambo Utse ini menjadikan tempat ini sangat indah untuk melihat kota Tibet.

Negara Atap Dunia dari Atap Biara Dreppung
Pilgrims

Ditempat ini gue banyak mengunjungi beberapa chapel tempat mereka beribadah dan belajar, dan juga memasuki Dapur tradisional mereka, pada saat gue mengatakan Tradisional itu berarti mereka masih menggunakan tungku kayu untuk memasak, penggilingan kayu untuk mengolah Tsampa, tanpa kipas dan penerangan lampu, tapi sungguh disayangkan maraknya wisatawan yang berkunjung di tempat ini membuat mereka Jumawa dan memasang tarif 20 yuan untuk mengambil foto di areal ini, bayangkan kalau foto aja bayar di dapur saja bayar, berapa banyak uang yang harus gue keluarkan untuk tempat wisata yang berikutnya, setelah chapel dan dapur maka tempat selanjutnya adalah main chapel tempat belajar utama mereka, dan gue bisa memasuki tempat ini sambil melihat mereka membaca doa, kalian bisa bayangkan betapa terkikisnya kebebasan beragama di tempat ini, dan ini tidak lepas dari campur tangan Cina, yang turut mengekploitasi tempat ini sebagai tempat wisata, sungguh sedih melihat para wisatawan mengitari mereka tepat di depannya pada saat mereka melafalkan doanya


Seperti kata Elena Gilbert dari film The Vampires Diaries 'Memories are too precious to be Forgotten' mungkin inilah ungkapan kebahagiaan gue setelah berkunjung ke tempat ini
Tepat pkl 12.05 kami pun beranjak ke sebuah restaurant di Yak Hotel, satu-satunya hotel bintang 5 di bilangan Tebet Tibet, Biar Tekor asal Tersohor, itulah motto kami untuk hari ini, karena harga patungan per orang sebesar 40 Yuan, Selesai makan kami melanjutkan perjalanan ke Sera Monastery, Salah satu dari perguruan Biksu lainnya setelah Dreppung Monastery, nama Sera berarti Mawar Liar dalam bahasa Tibet didirikan pada periode 1355-1435, selama pemberontakan Tibet dari Cina tahun 1959, tempat ini memakan korban terbanyak yang terbunuh oleh para tentara Cina, Tempat ini terkenal dengan Sand of Mandala Yamantaka

 
 
 
yaitu Sebuah simbol dari alam semesta yang di tujukan untuk Dewa Yamantaka - Dewa Penakluk Kematian, terbuat dari Pasir dan dibuat oleh 2-3 biksu dalam jangka waktu bulanan, dan setiap tahunnya Mandala ini di hancurkan dan di bagikan kepada rakyat untuk di makan yang dipercaya bisa menjadi berkat, sungguh amat disayangkan tempat ini sudah mengenal uang sehingga, 5 yuan adalah kewajiban bagi para pelancong yang ingin mengambil foto dari mandala, sedangkan gue ?
Yah, Ngumpet-ngumpet ngambil fotonya pake Iphone
Lepas dari tempat ini kami pun melanjutkan menuju tempat yang sudah melegenda di Tibet yaitu areal 'Tibetan Monks Debate" suatu proses debat antar sesama biksu untuk melatih, memperluas pikiran, meningkatkan ketajaman mental, mengembangkan kemampuan analisa tentang ajaran Buddha itu sendiri


Proses ini sendiri di buat cukup unik karena setiap biksu akan menepuk kedua tangan sambil menghentakkan kaki ketika jawaban itu benar.


Tour hari ini kami sudahi pada pukul 17.00 sebelum kami disemayamkan di hotel masing-masing, setibanya kami di hostel gue melihat Jepri membuka semua pakaiannya lalu bersembunyi di balik selimut

Gue pun bertanya "kenapa lo Jep ?"

Jepri pun menjawab "Aneh Man, gue kepanasan deh, badan gue demam, kepala gue pusing lagi"

Dari kejadian ini gue pun tersadar bahwa mau batak karo, Bule, cina, Jelek, Ganteng, Pendek, Bantet, Homo atau Banci sekalipun semuanya bisa terkena AMS, cuma masalah rejeki sama amal baik aja,
Demam, Bibir Kering, kepala Pusing, dada sakit kaya abis dikhianatin sampai rasa kesepian uda mulai berasa di titik ini.
Gue pun bergegas mencari obat AMS untuk mengobati rasa sakit hati ini, obat ini hanya dapat ditemukan di Tibet


Setelah setengah jam di dalam apotek, dengan segala rumus seluruh gerak tubuh gue mencoba mengkomunikasikan obat seperti apa yang gue cari, dan dapatlah obat AMS tersebut dengan harga 35 Yuan, dengan isi 10 botol, itu berarti untuk 5 hari apabila di bagi dua


Gregorz, pria poland itu pun mencoba menawarkan obat AMS dari negaranya karena melihat Jepri yang sudah tampak pucat, dalam keadaan seperti ini beribu pikiran negatif secara liar keluar dari pikiran gue, dan puluhan what-if scenario pun terbayang, hingga satu di antaranya terucap

"Jep, kayanya lo bener deh man, kalau emang kita ga bisa lanjut ke Everest, stay disini aja yah, gue juga parno neh, masih 7 hari lagi, apa iya gue ga bisa tidur terus, di 3000-an Mdpl aja kita uda begini, apalagi di 5000-an..ngeluarin puluhan juta cuma buat sakit, TAI banget... !"

Rasa putus asa sudah mulai menggerogoti pikiran gue saat itu, sambil bersandar gue mengupload foto-foto perjalanan anti-mainstream ini di Path,
Sehingga mengundang banyaknya comment positif dan antusias, repath foto, permintaan teman baru serta pertanyaan tentang seperti apa wisata Tibet

Sedikit demi sedikit aura positif dan aura kasih mulai masuk kembali kedalam pikiran gue.

Gue ga boleh cupu !
Ga boleh takut menghadapi hari esok !
Gue tau bahwa Tibet itu negara gede, mungkin segede dosa gue sama TUHAN.
Tapi gue bukan anggota komplotan mafia pengedar bubuk Abate yang bisa menyerah begitu aja !
Sebagai Backpacker Syariah gue pun harus menggenapi setiap tujuan gue sampai selesai !

Di penghujung malam gue pun meminum dua jenis obat AMS lalu berdoa meminta napas kehidupan, dan tidur yang NYENYAK, karena hampir dua hari tidak tertidur !